paskah

Paskah: Hidup yang Membuah dan Merekah

DALAM sebuah masyarakat yang dikenal amat kental religiusitasnya, maka perayaan hari-hari raya keagamaan telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hari-hari raya keagamaan dari agama-agama yang ada di Indonesia silih berganti sepanjang tahun dirayakan penuh damai dan sukacita.
Pada 9 April 2004, umat Kristen memperingati Jumat Agung, yaitu hari kematian Yesus Kristus yang kemudian berlanjut dengan peringatan hari Paskah pada 11 April. Umat Kristen mengenal beberapa hari raya gerejawi. Selain Jumat Agung dan Paskah, ada pula hari-hari penting: Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga, Pentakosta (hari kelima puluh; pencurahan Roh Kudus) dan Natal (Kelahiran Yesus). Hari Raya Paskah (dari kata Ibrani, pesakh-melewati) adalah hari Kebangkitan Yesus dari kematian. Yesus yang sepanjang hidupnya meniti jalan sengsara, melalui peristiwa Paskah, membebaskan manusia dari kuasa penderitaan dan menjadikan manusia benar-benar baru.
Umat Kristiani merayakan Paskah dengan penuh luapan syukur dan sukacita, sebab Paskah menganugerahkan optimisme baru serta kehidupan yang lebih prospektif. Peristiwa Jumat Agung dan Paskah adalah pilar-pilar yang kukuh, yang di atasnya konstruksi kekristenan itu dibangun dan didirikan. Umat Kristen di Indonesia seharusnya memberi tempat yang positif bagi kedua hari raya ini, dalam arti mengajak seluruh warga gereja memperingatinya dalam berbagai bentuk sehingga signifikansi hari raya itu menapasi kehidupan gereja.
Peristiwa Paskah adalah tindakan pemerdekaan yang dilakukan Allah bagi manusia. Hal itu harus mendorong manusia untuk keluar dan membebaskan diri dari sikap primordial, curiga, benci dendam, iri hati, diskriminatif dan destruktif. Tindakan pemerdekaan Allah dalam Paskah perlu diimplementasikan dan menjadi nada dasar dari seluruh gerak pelayanan gereja di masa depan.
Gereja sebagai persekutuan kristiani harus menampilkan sikap terpuji, kinerja yang positif di tengah masyarakat majemuk Indonesia. Mereka harus secara proaktif memberi kontribusi bagi kehidupan bangsa. Konflik internal gereja harus makin diperkecil,

sikap ambisius dalam pekerjaan gerejawi harus ditanggalkan, praktik-praktik dunia sekuler yang kotor dan negatif tidak boleh dibawa masuk ke dalam gereja hanya demi kepuasan dan kepentingan pribadi. Penunggangan dan manipulasi agama oleh politik dan kekuasaan seperti yang terjadi dalam pemilu yang lalu harus dihentikan.
Bersama-sama dengan seluruh potensi yang ada di masyarakat, umat Kristen Indonesia dalam ketaatan yang penuh kepada Kristus bangkit dan berjuang terus bagi terwujudnya sebuah Indonesia yang adil, makmur, sejahtera dan berkeadilan berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam perspektif teologis, perayaan Paskah sebagai peringatan Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian merupakan inti dan dasar dari seluruh bangunan kekristenan. Alkitab menegaskan kata-kata Yesus: ”Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohannes 11:25).
Oleh kebangkitan Kristus, kuasa dosa yang selalu mengancam dan menempatkan manusia ke dalam dunia orang mati, digantikan oleh kuasa kasih yang merangkul, membangkitkan dan menghidupkan. Oleh kebangkitan Kristus, kehidupan manusia yang dijajah oleh kuasa kematian, mengalami pembebasan oleh kuasa Allah yang menghidupkan.
Oleh kebangkitan-Nya Kristus yang telah lebih dahulu menjalani penyiksaan, kebencian, penderitaan, dan penyaliban menegaskan bahwa kuasa-kuasa duniawi tidaklah kekal dan tidaklah mampu menghentikan kuasa Ilahi yang menghidupkan. Kuasa itu memasuki dunia untuk mencintai, bukan membenci; untuk menuntun, bukan menyesatkan; untuk memedulikan, bukan menelantarkan; dan untuk memberdayakan, bukan melemahkan dan memperdayakan.
Yesus yang sepanjang hidupnya meniti jalan sengsara dan mencapai titik kulminasi tatkala Ia mati di kayu salib adalah Yesus yang bangkit dari kematian, dengan demikian, Yesus tidak terbelenggu oleh kematian. Yesus tidak menyerah kalah dan pasrah terhadap kematian. Yesus tidak memberi diri dipenjara oleh kematian.

Agen Perdamaian Dunia
Peristiwa Paskah memiliki makna teologis yang sangat dalam bagi umat Kristiani. Peristiwa itu tidak pernah dapat dicari analoginya dalam kenyataan sekuler. Kebangkitan Yesus dari kematian pada hari Paskah membuktikan keteguhan komitmen Yesus terhadap masa depan umat manusia. Yesus tidak rela bahwa masa depan manusia adalah keakanan yang suram, yang hitam legam. Hidup manusia tak boleh berujung pada kematian abadi.
Muara hidup manusia adalah keselamatan abadi, kehidupan ceria sepanjang masa bersama Allah, di langit baru dan bumi baru yang di dalamnya tidak lagi dijumpai air mata, derita ketidakadilan, diskriminasi, primordialisme, keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan.
Derita yang melilit Yesus sepanjang perjalanan hidupnya dari Nazaret ke Yerusalem, Ia hadapi dengan tegar—bahkan Ia rangkul—justru karena kepedulian-Nya yang amat dalam terhadap kuasa maut dan kebangkitan-Nya membuktikan dengan amat jelas bahwa kebenaran selalu akan mengalami kemenangan.
Dalam pandangan kristiani, kebangkitan Kristus merupakan antisipasi dari kebangkitan Kristus merupakan antisipasi dari kebangkitan orang-orang beriman di masa depan, sebab itu Paskah memiliki integritas dengan kehidupan manusia kini dan di sini, yang sedang berjuang di tengah realitas sejarah, ruang dan waktu.
Spirit kebangkitan Kristus harus sungguh-sungguh menjadi agenda utama dari gereja-gereja di Indonesia, menjadi nada dasar dari seluruh gerak langkah umat kristiani dan tidak boleh terjebak menjadi sebuah retorika tanpa makna. Kristus telah bangkit. Harapan-harapan baru dicipta dan diukirnya bagi manusia dan dunia.
Umat manusia umumnya, dan umat Kristiani khususnya, harus bangkit dan secara kreatif-dinamik mengukir karya terbaik bagi sesama tanpa pamrih, dengan tidak mempertimbangkan suku, agama ras, dan golongan. Paskah harus mampu merubuhkan tembok-tembok pemisah yang berdiri kukuh membentengi kedirian manusia. Paskah harus mampu menumbuhkan potensi-potensi integratif dan menghancurkan virus-virus disintegratif yang menggerogoti masyarakat majemuk Indonesia.
Berdasarkan sikap Yesus yang inklusif dan rendah hati, maka Paskah tak dapat tidak harus dapat mencairkan gumpalan-gumpalan ekslusivisme serta menumbangkan sikap arogansi. Gereja dan umat kristen Indonesia menyadari benar bahwa ia adalah bagian integral dari bangsa. Ia lahir dari tengah-tengah bangsa Indonesia atas kehendak Allah dan ditempatkan di negeri ini untuk menjadi berkat bagi semua orang.
Pemahaman diri sebagai bagian integral bangsa itulah yang telah diukir-Nya bagi manusia dan dunia, dalam ruang, waktu di tengah realitas sejarah. Sebab itu, Paskah harus meneguhkan kembali tekad dan komitmen Gereja: bahwa kehadiran dan kediriannya harus memberi makna bagi orang lain.
Melalui Paskah, gereja-gereja harus menegaskan kembali tekadnya untuk menjadi pelayanan pendamaian, menjadi agen-agen perdamaian dunia di tengah-tengah dunia yang sarat dengan konflik dan permusuhan. Gereja-gereja di Indonesia harus menjadi gereja yang mengindonesia, yang mengakar ke bumi Indonesia; yang bersedia hidup bagi Indonesia. Paskah adalah tatkala hidup merekah dan berbuah, agar dinikmati orang lain, dan menjadi berkat bagi masyarakat luas.

Memaknai Paskah Yesus Kristus

Memaknai Paskah Yesus Kristus SETIAP tahun, umat Kristiani merayakan PASKAH yang mencerminkan suatu perayaan Pesta Iman dan digambarkan dengan bermacam-macam kegiatan, namun tak banyak umat Kristiani memahami betul apa arti Paskah itu sendiri.

Penulis ingin memberikan suatu gambaran tentang Pas-kah yang sebenarnya dan yang pantas untuk dilakukan dan dirayakan oleh kita umat Kris-ten yang percaya bahwa man-ivestasi Yesus Kristus sebagai Juru Selamat melalui rasa so-lidaritasnya yang tinggi se-hingga Yesus Kristus bukan saja rela fisiknya disiksa, disa-libkan, malah mati dan diku-burkan walau Diapun bangkit dan naik ke sorga hanya untuk menebus segala dosa dan per-buatan kita, serta akan datang kembali ke dunia ini untuk menjemput dan meyelamatkan kita.
AWALNYA PASKAH
Istilah dan peristiwa Paskah bukan saja dikenal dalam Perjanjian Baru atau saat setelah Kristus wafat, bangkit dan naik ke sorga, tapi Paskah sudah ada sejak jaman Perjan-jian Lama. Sebagai misal bah-wa Kitab Keluaran & Ulangan justru mengkhususkan serta memberitakan bagaimana umat Israel merayakan Paskah. Perayaan Paskah adalah dua upacara yang pada mulanya ter-pisah, yakni Paskah dan Hari Raya Roti tak beragi.
Paskah adalah perayaan yang diperiingati setelah kematian. Paskah dalam bahasa latin disebut Pasca yang artinya telah lewat atau yang sudah berlalu. Sedangkan hari raya roti tak beragi adalah perayaan untuk memperingati tujuh hari yang pertama dari peristiwa keluarnya umat Israel dari tanah perhambaan Mesir.
Kedua perayaan ini saling kait mengait satu sama lain. Suatu contoh bahwa ragi harus disingkirkan dari rumah sebelum penyembelihan anak domba Paskah (Ulangan 16 : 3 – 5), sehingga jamuan Paskah itu sendiri diadakan dengan makan roti yang tak beragi (Ke-luaran 12 : 8). Orang Israel ak-hirnya menggabungkan kedua perayaan ini menjadi satu pe-rayaan.
Bagi orang Israel merayakan Paskah sebagai momentum atau memperingati keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir selama 400 ta-hun lamanya. Musa yang di-utus Tuhan untuk menyela-matkan bangsa Israel ketika itu, dan sembilan tulah yang dibe-rikan Tuhan kepada bangsa Mesir tidak cukup untuk melunakkan hati Raja Firaun untuk melepaskan umat Israel. Nanti tulah ke sepuluh yakni kematian anak sulung barulah Firaun memberikan kebebasan kepada bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Tulah ke sepuluh ini tidak akan me-nimpah orang Israel apabila mereka menyembelih domba dan mengoleskan darah dom-ba Paskah pada ambang atas dan kedua tiang pintu rumah mereka dengan maksud bah-wa ketika Tuhan berjalan mem-berikan tulah kepada orang Mesir, maka Tuhan akan me-lewatkan setiap rumah milik orang Israel yang pintunya telah dioleskan darah domba Paskah. Paskah dalam bahasa asing disebut Passover yang artinya lewat, atau lewat dari kematian anak sulung.
PASKAH YESUS KRISTUS
Rasul Paulus dalam Kitab Korintus 15 : 14 mengatakan; “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu”. Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus dari antara orang mati membuat kepercayaan kita kepadaNya tidaklah sia-sia. Sebagaimana Kristus mati dan di bangkitkan pada hari yang ketiga, maka kita harus me-maknai Paskah berdasarkan Iman percaya kita.
PESAN PASKAH
Merayakan Paskah tidak mesti harus dengan mengor-bankan banyak materi yang sifatnya evoria Paskah, seper-ti halnya bukit-bukit disulap bagaikan bukit Golgota tempat Yesus Kristus disalibkan. Hal ini bukanlah suatu jaminan bagi kita memaknai Paskah Yesus Kristus yang sesung-guhnya. Kegiatan perlombaan kesenian, olah raga dan lain sebagainya menjelang dan sesudah Paskah justru tidak mencerminkan nilai-nilai ke-imanan karena sering di-bumbui dengan perselisihan dan perbedaan pendapat dian-tara sesama jemaat saat melak-sanakan perlombaan. Paskah sebaiknya lebih diarahkan pada bagaimana kita mengenang kisah perjalanan Tuhan Yesus Kristus mulai dari Yesus Kris-tus dibaptis oleh Yohanes Pem-baptis sampai Kristus disalib-kan, mati, bangkit dan naik ke sorga dalam bentuk Ibadah (Ibadah Puasa, KKR, Berdoa syafaat dsb). Firman Tuhan melalui Matius 5 : 16 berkata; “Demikianlah hendaknya te-rangmu bercahaya didepan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. Statemen ini bukan saja ditujukan kepada mereka yang menyandang predikat se-bagai Pelayan Tuhan seperti hal-nya (Pendeta, Gembala, Eva-gelis, Penatua, Syamas), akan tetapi pernyataan ini ditujukan kepada kita semua orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Sadarkah kita bahwa Kematian Yesus Kritus di bukit Golgota adalah wujud nyata pe-ngorbananNya untuk menye-lamatkan kita dari perbuatan dosa kita sendiri. Mestinya kita menyadari bahwa lewat pengor-bananNya di kayu salib, kita sudah dikeluarkan dari kegela-pan menuju terang ajaib. Yoha-nes 8 : 12 berkata; “Maka Yesus berkata kepada orang banyak, katanya; “Akulah terang dunia, barang siapa mengikut aku ia tidak akan berjalan dalam kege-lapan, melainkan ia akan mempu-nyai terang hidup”. (bersambung)
Penulis adalah anggota jemaat GMIM Golgota Malendeng

Iklan
By francinlinelejan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s